Kamis, 05 Agustus 2010

Untuk Guru ku

Ditumbuhkan dari ketulusan dan jiwa luhur yang senantiasa kaukantongi:
di sini benak masih menggelitik.
Masih kuingat, menu - menu pelajaran yang kauhidangkan pada kami disertai bumbu - bumbu cerita tentang keindahan dan kesopanan, kini tlah habis tersantap

Hafal - hafalan dan rumus -- rumus serta nasihat laksana peluru - peluru yang kaumasukkan pada senjataku 'tuk jelang masa depan 'gar dapatkan kemenangan tiada tara

Tiga tahun sudah tereguk manisnya kekudusan jiwamu
Kaurajang satu - satu dari kami dengan keputihan hati
Kaugelarkan lipatan - lipatan harap sebagai bekal dalam menyongsong zaman

Tiga tahun sudah tereguk manisnya kekudusan jiwamu
Kini, hanyalah potongan puisi yang dapat kami hadiahkan
Namun, walaupun hanya potongan puisi,
biarlah ini dapat menjadi kenangan bahwa di antara kita pernah terjalin sebentuk kasih

Dan perpisahan ini takkan pernah memadamkannya

Perpisahan ini adalah arena uji coba 'tuk artikan dan lukiskan rupa jiwa luhurmu, ketulusanmu dan juga pengabdianmu


Buat sahabat

Salam Malam buat Sahabat

Seandainya kini kau telah terlelap
Semoga tidurmu nyenyak dan damai
Dalam buaian malam dingin yang senyap

Seandainya bunga tidur kautemui
Semoga bunga itu mekar
Dan menebar wangi di ruang imajinasi

Selamat tidur bagimu, sahabat
Semoga ketika esok tiba
Telah segar kembali jiwa raga
Dan telah musnah segala penat

Selamat berkarya cipta kembali
Semoga selalu jadi nyata
Hari esok yang lebih apik ketimbang hari ini
Dan Allah tansah meridhoi

Amin…


“Kuliah dimana ya? Ambil jurusan apa?”

Dua pertanyaan yang terbesit di benak para pelajar SMA/SMK kelas tiga dapat memacu stress dan mengurangi konsentrasi belajar. Hal ini karena mereka sadar akan pentingnya masa transisi antara SMA dan kuliah bagi masa depan mereka, sehingga tak jarang pikiran tersebut muncul tiba-tiba disaat mereka sedang belajar, les, atau di rumah. Pelajar SMA/SMK menjadi lebih sensitif akan kelanjutan studi satu sama lain.

Pertimbangan seperti fanatisme universitas, biaya, minat, dan potensi akademis yang bercampur aduk menjadi satu terkadang dapat menimbulkan kesalahan dalam memilih keputusan. Sebagai contoh, karena besarnya fanatisme terhadap universitas tertentu, para pelajar lebih memilih untuk belajar di jurusan yang tidak sesuai dengan minatnya hanya demi kuliah disana. Sebaliknya, ada pula yang bersikukuh dengan jurusan dan universitas yang diinginkan tetapi minder dengan besarnya biaya kuliah di universitas favoritnya itu. Akhirnya, para pelajar tersebut putus asa dan tidak berani mencoba. Padahal, diluar sana, banyak sekali kesempatan beasiswa.

Lalu, siapa yang paling dipercaya untuk membantu mereka memilih kelanjutan studi yang tepat? Orang tua? Sayangnya, tidak semua orang tua paham tentang seluk beluk pendidikan. Kalaupun tahu, tidak semua orang tua update dengan info kuliah terkini. Guru BP? Bayangkan jika 2-5 orang guru mengarahkan 300 orang siswa, apakah akan efektif? Lalu siapa? Jawaban paling tepat adalah alumni. Jumlah mereka banyak, begitu pula variasi jurusan dan tempat belajar yang mereka tahu. Akan sangat indah jika meraka bersedia membagi pengetahuan tentang universitas/akademi, jurusan, gambaran dunia kerja dari tiap jurusan, dan tips sukses kuliah. Alumni bisa dijadikan obat ketidaktahuan, kebimbangan, dan keminderan.

Pameran Pendidikan oleh Alumni

Jika ada alumni yang berpikir bahwa ini belum urgent karena toh banyak event organizer yang mengadakan pameran serupa, pikiran itu sebaiknya ditepis jauh-jauh. Pameran pendidikan yang diadakan alumni sudah tentu lebih objektif karena sama sekali tidak ada unsur komersil dan pemasaran. Selain itu, alumni bisa memperkaya informasi pelajar akan adanya beasiswa, kesempatan kerja paruh waktu, dan biaya hidup. Tentunya, pameran ini bisa dikonsep semenarik dan kreatif mungkin.

Pemeran pendidikan seperti ini sebaiknya diadakan satu tahun sekali dengan target utama pelajar kelas 3 SMA/SMK. Untuk mempermudah koordinasi, alumni yang bertindak sebagai event organizer dapat diambil dari angkatan yang baru saja lulus. Rasa kangen dan kebersamaan yang kental dari angkatan yang baru lulus bisa disalurkan secara positif. Untuk dana, tidak perlu khawatir, pameran yang bertempat di sekolah ini bisa sangat hemat dari segi dana, mengingat tempat pameran sudah disediakan oleh sekolah secara gratis serta materi informasi didukung dari universitas.

Acara ini sangat mungkin dilaksanakan. Sebagai salah satua cara Studium Generale yang berupa pameran pendidikan, workshop, ataupun seminar bertema “Kuliah dimana? Jurusan apa?”. Studium Generale ini menghadirkan alumni yang masih belajar maupun yang sudah bekerja. Kembalinya alumni tersebut dapat menunjukkan contoh nyata bahwa sekolah mampu mencetak generasi muda yang berkarya.

Hasilnya, pelajar akan semakin termotivasi untuk berkarya di tempat kuliah yang diimpikan, kemudian dengan bangganya kembali ke almamater. Alumni adalah generasi bangsa. Warna, keihklasan, dan kegigihannya untuk mengembangkan almamater akan sangat bermanfaat untuk membangun bangsa.